Pengertian Autisme
Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut dengan autisme atau autis merupakan gangguan perkembangan saraf. Seperti apa itu autisme? Gangguan ini memengaruhi perkembangan bahasa anak.
Akibatnya, anak kesulitan untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku. ASD juga mencakup sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).
Kelainan ini bukan penyakit, tapi kondisi saat otak bekerja dengan cara yang berbeda dari orang lain. Penyandang kelainan ini dapat mengalami kesulitan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.
Pengidap autis sulit untuk mengekspresikan diri. Baik dengan kata-kata atau melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan. Selain itu, penyandang juga akan memiliki kendala saat belajar.
Selain itu, keterampilan mereka tidak berkembang baik sepenuhnya. Misalnya, ketika penyandang autis memiliki kesulitan berkomunikasi, mereka bisa pandai dalam seni, musik, memori, hingga matematika.
Lantas, apa itu autisme infantil? Ini istilah masa lalu untuk menggambarkan gangguan spektrum autisme saat ini. Autisme infantil mengacu pada autisme yang terjadi pada masa kanak-kanak.
Penyebab Autisme
Autisme terjadi karena apa? Hingga saat ini, belum tahu apa yang menjadi penyebab pasti masalah ini. Namun, para ahli mengidentifikasi adanya beberapa gen yang mungkin memiliki kaitan dengan ASD.
Kadang-kadang gen-gen penyandang autis ini muncul dan bermutasi secara spontan. Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, pengidap mungkin mewarisi gen tersebut dari orang tuanya.
Dalam kasus anak kembar, autisme bisa terjadi akibat gen kembar. Misalnya, bila satu anak kembar mengidap kelainan ini, maka kembar yang lain memiliki risiko sebanyak 36-95 persen.
Mereka yang mengidap kelainan ini juga bisa mengalami perubahan di area-area utama otak. Akibatnya, penyakit memengaruhi cara bicara dan perilaku pengidap.
Selain itu, faktor lingkungan juga berperan dalam pengembangan ASD, meskipun dokter belum mengkonfirmasi kebenarannya. Pengidap autis tidak terbentuk dari:
- Pola asuh orang tua yang buruk.
- Penggunaan vaksin, seperti vaksin MMR.
- Konsumsi makanan dan minuman.
- Infeksi yang dapat menular.
- Mutasi genetik yang memengaruhi perkembangan otak dan fungsi saraf.
- Faktor genetik dengan riwayat gangguan spektrum autis.
- Paparan zat kimia berbahaya, polusi udara, serta infeksi selama masa kehamilan.
Ibu bisa mencari tahu lebih lanjut terkait dengan penyebab di sini: Ibu Harus Tahu, Inilah Penyebab Autisme pada Anak.
Faktor Risiko Autisme
Faktor-faktor yang jadi pemicu gangguan, antara lain:
- Jenis kelamin. Anak laki-laki memiliki risiko hingga 4 kali lebih tinggi mengalami kelainan ini ketimbang anak perempuan.
- Faktor keturunan. Orang tua yang mengidap kelainan ini berisiko memiliki anak dengan kelainan yang sama.
- Penularan selama dalam kandungan. Contohnya, efek samping terhadap minuman beralkohol atau obat-obatan (terutama obat epilepsi untuk ibu hamil) selama dalam kandungan.
- Pengaruh gangguan lainnya. Misaknya, sindrom Down, distrofi otot, neurofibromatosis, sindrom Tourette, lumpuh otak (cerebral palsy) serta sindrom Rett.
- Kelahiran prematur. Khususnya bayi yang lahir pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang.
Ciri-Ciri Anak dengan Autisme
Anak autis bisa dilihat dari umur berapa? Di bawah ini gejala pengidap autis yang bisa terdeteksi berdasarkan usianya:
1.Gangguan keterampilan komunikasi dan interaksi sosial
Contoh karakteristik komunikasi sosial dan interaksi sosial yang terkait dengan pengidap autis dapat mencakup:
- Tidak memperhatikan anak-anak lain dan ikut bermain dengan mereka pada usia 36 bulan.
- Tidak berpura-pura menjadi orang lain, seperti guru atau pahlawan super saat bermain pada usia 48 bulan.
- Tak menunjukkan ekspresi wajah, seperti senang, sedih, marah, dan terkejut pada usia 9 bulan.
- Menghindari atau tidak mampu menjaga kontak mata.
- Tidak menoleh saat namanya dipanggil pada usia 9 bulan.
- Tidak memainkan permainan interaktif sederhana pada usia 12 bulan.
- Menggunakan sedikit atau tidak menggunakan gerakan pada usia 12 bulan. Misalnya, tidak melambaikan tangan.
- Tak berbagi minat dengan orang lain pada usia 15 bulan. Misalnya, menunjukkan kepada ibu objek yang mereka sukai.
- Tidak menunjukkan sesuatu yang menarik pada usia 18 bulan.
- Tidak memperhatikan ketika orang lain terluka atau kesal pada usia 24 bulan.
- Tak menyanyi, menari, atau berakting pada usia 60 bulan.
2. Gangguan perilaku atau minat yang terbatas atau berulang.
Contoh perilaku dan minat terbatas atau berulang yang terkait dengan pengidap autis, antara lain:
- Kesal saat bermain permainan yang membutuhkan konsentrasi, seperti menyusun balok-balokan.
- Mengulangi kata atau frasa berulang-ulang ( echolalia).
- Bermain dengan mainan dengan cara yang sama setiap saat.
- Fokus pada satu bagian objek saja. Misalnya, roda.
- Marah saat ada perubahan kecil.
- Memiliki minat obsesif.
- Harus mengikuti rutinitas tertentu.
- Mengepakkan tangan, mengayunkan tubuh, atau berputar dalam bentuk lingkaran.
- Memiliki reaksi yang tidak biasa terhadap suara, bau, rasa, tampilan, atau rasa benda.
3. Karakteristik lain
Kebanyakan pengidap memiliki karakteristik lainnya, seperti:
- Keterampilan bahasa yang tertunda.
- Keterampilan gerakan yang tertunda.
- Perilaku hiperaktif, impulsif, atau lalai.
- Keterampilan kognitif atau belajar yang tertunda.
- Epilepsi atau gangguan kejang.
- Kebiasaan makan dan tidur yang tidak biasa.
- Masalah gastrointestinal. Misalnya, sembelit.
- Suasana hati atau reaksi emosional yang tidak biasa.
- Kecemasan, stres, atau kekhawatiran yang berlebihan.
- Kurangnya rasa takut atau rasa takut berlebihan.
Klik artikel ini untuk mengetahui ciri lainnya: Autisme pada Anak, Ketahui Apa Saja Ciri-Ciri dan Penyebabnya.
Diagnosis Autisme
Mendiagnosis gangguan spektrum autisme (ASD) merupakan hal yang sulit, karena tidak ada tes medis, seperti tes darah, untuk mendiagnosis gangguan tersebut.
Dokter melihat riwayat perkembangan dan perilaku anak untuk membuat diagnosis. Gangguan biasanya sudah dapat terdeteksi pada usia 18 bulan atau lebih muda.
Pada usia 2 tahun, diagnosis sudah bisa dipastikan. Meski begitu, banyak pengidap yang tidak terdiagnosis sampai mereka remaja atau dewasa. Hal ini terjadi karena mereka tidak mendapatkan bantuan awal yang mereka perlukan.
Mendiagnosis pengidap autis sedini mungkin penting untuk memastikan pengidap menerima layanan dan dukungan yang mereka butuhkan. Tujuannya untuk mencapai potensi penuh dalam diri.
Diagnosis biasanya membutuhkan 2 langkah, berikut adalah penjabarannya:
1. Skrining perkembangan
Langkah ini bertujuan untuk memberi tahu dokter apakah anak dapat mengikuti keterampilan dasar seperti belajar, berbicara, perilaku, dan bergerak sesuai usianya.
Sebaiknya anak-anak menjalani skrining keterlambatan perkembangan pada usia 9, 18, dan 24 atau 30 bulan. Nantinya, pengidap akan melakukan pemeriksaan khusus pada usia 18 dan 24 bulan.
2. Evaluasi lanjutan
Jika anak menunjukkan tanda-tanda masalah pada pemeriksaan, mereka memerlukan evaluasi yang lebih lengkap. Metode ini termasuk tes pendengaran dan penglihatan atau tes genetik.
Dokter juga akan mengajak spesialis yang berpengalaman dalam menangani gangguan autisme. Misalnya, dokter spesialis anak atau psikolog anak. Beberapa psikolog juga dapat memberikan tes Autism Diagnostic Observation Schedule (ADOS).
Cari tahu pentingnya diagnosis dini pada pengidap autis: Pentingnya Deteksi Dini Autisme pada Anak
Pengobatan Autisme
Pengidap autis tidak dapat sembuh. Meski begitu, ada penanganan yang untuk membantu pengidap. Tujuannya agar mereka dapat menyesuaikan diri dan mampu mengembangkan potensi dalam diri.
Sementara itu, tindakan penanganan yang kamu lakukan pada tiap penyandang autisme bisa berbeda-beda. Namun, penanganan yang dokter berikan pada pengidap umumnya berupa terapi.
Berikut adalah beberapa pilihan metode terapi umum untuk pengidap:
1. Terapi perilaku dan komunikasi
Terapi ini akan memberikan sejumlah pengajaran pada pengidap, termasuk kemampuan dasar sehari-hari, baik verbal maupun nonverbal. Berikut adalah beberapa jenis contoh dari terapi perilaku dan komunikasi:
- Analisis perilaku terapan (ABA), untuk meningkatkan perilaku positif dan mencegah perilaku negatif.
- Terapi okupasi, yang bertujuan untuk membantu keterampilan hidup seperti berpakaian, makan, dan berhubungan dengan orang lain.
- Terapi wicara, untuk meningkatkan keterampilan komunikasi penyandang kelainan ini.
- Kelompok keterampilan sosial, untuk melatih keterampilan sosial dalam lingkungan yang terstruktur.
- Terapi integrasi sensorik, guna membantu seseorang yang memiliki masalah dengan sentuhan atau pemandangan atau suara.
- Relationship development intervention (RDI) melibatkan aktivitas yang meningkatkan motivasi, minat, dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam interaksi sosial bersama.
2. Terapi keluarga
Terapi ini bertujuan untuk orang tua dan keluarga pengidap autisme. Tujuannya adalah agar keluarga bisa belajar cara berinteraksi dengan pengidap dan juga mengajarkan pengidap berbicara serta berperilaku normal.
3. Pemberian obat-obatan
Langkah ini bertujuan untuk mengendalikan gejala. Tergantung dari tanda yang terjadi pada Si Kecil, dokter akan merekomendasikan beberapa jenis obat, contohnya:
- Melatonin untuk mengatasi masalah tidur.
- Obat antikejang untuk mengatasi kejang.
- Obat antipsikotik untuk mengatasi masalah perilaku.
- Antidepresan untuk meredakan depresi.
Apakah Autisme Bisa Sembuh?
Autisme adalah gangguan perkembangan yang terjadi seumur hidup dan tidak dapat sembuh. Namun, dengan intervensi yang tepat dan terkoordinasi, pengidapnya dapat mengalami kemajuan kualitas hidup.
Meskipun tidak ada jaminan bahwa gejala autisme sepenuhnya akan menghilang, banyak pengidap mengembangkan strategi adaptif dan belajar mengelola tantangan. Tujuannya untuk meningkatkan fungsi kehidupan sehari-hari.
Tips Berkomunikasi dengan Anak Autisme
Ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk berkomunikasi dengan pengidap autis, antara lain:
- Gunakan kalimat yang pendek dan jelas, hindari penggunaan kalimat kompleks atau ambigu.
- Berbicara dengan tenang dan sabar, berikan jeda yang cukup antara pertanyaan atau pernyataan.
- Gunakan gambar, kartu, atau papan pesan untuk membantu anak memahami instruksi atau konsep yang sedang dibicarakan.
- Temukan minat atau topik yang menarik bagi anak dan gunakan itu sebagai titik awal dalam berkomunikasi.
- Gunakan metode komunikasi alternatif, seperti gambar, isyarat, atau teknologi.
- Hindari kebisingan berlebihan, cahaya yang terlalu terang, atau situasi yang terlalu ramai karena bisa mengganggu konsentrasi.
- Gunakan kalimat yang sama atau pertanyaan yang terstruktur untuk membantu mereka memahami dan merespons dengan baik.
- Pakai bahasa tubuh dan ekspresi wajah untuk memperkuat pesan dalam komunikasi.
Cara Mencegah Autisme
Hingga saat ini belum ada cara tepat untuk mencegah kelainan. Maka dari itu, langkah awal yang harus orang tua ambil apabila Si Kecil menunjukkan gejala kelainan ini adalah dengan menghubungi dokter.
Sebab, penanganan yang sedini mungkin dapat membantu mereka memiliki kehidupan yang lebih layak. Dengan begitu, mereka bisa beraktivitas seperti orang normal lainnya.
Meski begitu, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir gangguan, seperti:
- Terapkan pola hidup sehat
Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan rutin berolahraga.
- Lakukan perawatan kehamilan rutin
Pastikan memiliki perawatan prenatal yang baik dan minum semua vitamin serta suplemen yang direkomendasikan.
- Berkonsultasi pada dokter saat hendak minum obat selama kehamilan
Tanyakan kepada dokter sebelum minum obat apa pun. Terutama untuk obat antikejang.
- Hindari konsumsi alkohol
Alkohol dapat menembus plasenta dan mempengaruhi pertumbuhan serta fungsi otak janin yang sedang berkembang.
- Cari pengobatan yang tepat
Segera periksakan diri jika telah didiagnosis mengidap penyakit celiac. Ikuti saran dokter untuk mengendalikannya.
- Dapatkan vaksinasi
Pastikan mendapatkan vaksin campak Jerman (rubella) sebelum kehamilan. Prosedur dapat mencegah autisme terkait rubella.
- Hindari paparan zat berbahaya
Jauhi rokok, alkohol, dan narkoba selama kehamilan dan setelah kelahiran Si Kecil
